Brain Based Learning
Model Pembelajaran Brain Based
Learning (BBL)
Brain
based learning adalah
sebuah konsep untuk menciptakan pembelajaran dengan berorientasi pada upaya
pemberdayaan potensi otak siswa Tiga strategi utama yang dapat
dikembangkan dalam implementasi Brain Based Learning (Jensen,
2008). Pertama, menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan
berpikir siswa. Dalam setiap kegiatan pembelajaran, sering-seringlah guru
memberikan soal-soal materi pelajaran yang memfasilitasi kemampuan berpikir
siswa dari mulai tahap pengetahuan (knowledge) sampai tahap evaluasi
menurut tahapan berpikir berdasarkan Taxonomy Bloom. Soal-soal pelajaran
dikemas seatraktif dan semenarik mungkin misalnya melalui teka-teki, simulasi
games, tujuannya agar siswa dapat terbiasa untuk mengembangkan kemampuan
berpikir dalam konteks pemberdayaan potensi otak siswa.
Kedua, menciptakan lingkungan
pembelajaran yang menyenangkan. Hindarilah situasi pembelajaran yang membuat
siswa merasa tidak nyaman dan tidak senang terlibat di dalamnya. Lakukan
pembelajaran di luar kelas pada saat-saat tertentu, iringi kegiatan
pembelajaran dengan musik yang didesain secara tepat sesuai kebutuhan di kelas,
lakukan kegiatan pembelajaran dengan diskusi kelompok yang diselingi dengan
permainan-permainan menarik, dan upaya-upaya lainnya yang mengeliminasi rasa
tidak nyaman pada diri siswa. Howard Gardner dalam Buku Quantum
Learningkarya De Porter, Bobbi, & Mike Hernacki menyatakan bahwa
seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang
dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnya.
Ketiga, menciptakan situasi
pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa (active learning). Siswa
sebagai pembelajar dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk dapat
membangun pengetahuan mereka melalui proses belajar aktif yang mereka lakukan
sendiri. Bangun situasi pembelajaran yang memungkinkan seluruh anggota badan
siswa beraktivitas secara optimal, misal mata siswa digunakan untuk membaca dan
mengamati, tangan siswa bergerak untuk menulis, kaki siswa bergerak untuk
mengikuti permainan dalam pembelajaran, mulut siswa aktif bertanya dan
berdiskusi, dan aktivitas produktif anggota badan lainnya. Merujuk pada konsep
konstruktivisme pendidikan, keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh seberapa
mampu mereka membangun pengetahuan dan pemahaman tentang suatu materi pelajaran
berdasarkan pengalaman belajar yang mereka alami sendiri.
Riset menunjukkan (Given, 2007)
bahwa otak mengembangkan lima sistem pembelajaran primer yaitu emosional,
sosial, kognitif, fisik dan reflektif. Jika guru memahami bagaimana sistem
pembelajaran primer (emosional, sosial, kognitif, fisik, reflektif) berfungsi,
maka mengajar akan lebih efektif dan merasakan kegembiraan lebih besar dalam
mengajar.
Dari uaraian di
atas Brain
based learning bisa diterapkan dalam pembelajaran
matematika. sistem pembelajaran kognitif memang sangat berkaitan langsung dalam
pembelajaran matematika, walupun begitu bukan berarti aspek kognitif saja yang
harus dikembangkan dalam pembelajaran matematika, hal ini dikarenakan aspek
kognitif tidak akan berkembang dengan optimal jika dalam pembelajaran tidak
melibatkan komponen otak yang lain.
II.1 Sistem Pembelajaran
Emosional
Hasil riset (Sorkresno,2007)
menunjukkan bahwa efektivitas belajar sangat ditentukan oleh suasana emosi. Bagian otak yang sangat
berperan dalam mempengaruhi seseorang adalah system limbic,
sehingga bagian ini sering disebut otak emosi.
Agar emosi dapat berperan secara
optimal, maka otak emosi membutuhkan suasana yang cocok dengan konsep
pendidikan yaitu proses belajar harus menyenangkan, memberikan pengalaman yang
bermakana dan relevan, melibatkan aspek multi sensori manusia, memberikan
pengalaman unik dan menantang.
Penelitian mengungkapkan bahwa
kognisi dan emosi saling mempengaruhi walaupun kognisi dan emosi berasal dari
otak berbeda (Jensen, 2007:9). Emosi positf dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan, sedangkan emosi negative akan menghabat prestsi akademis. Tetappi
emosi negatif berkembang untuk mengaktifkan system perhatian/pemecahan masalah
otak sehingga system tersebut bias merespon tantangan berbahaya (Given,
2007:79).
Sistem pembelajaran emosional otak
menentukan individualitas seseorang. Guru harus menciptakan suasana kelas yang
kondusif bagi keamanan emosional dan hubungan pribadi agar siswa belajar secara
efektif. Guru yang memupuk emosional berfungs sebagai mentor dan membantu siswa
menemukan hasrat untuk belajar, dengan membimbing mereka mewujudakan target
pribadi yang masuk akal, dan mendukung siswa dalam upaya untuk mencapai yang
ditargetkan.
Pada umumnya
siswa menganggap matematika menakutkan dan sulit sehingga membuat stress dan
jenuh, maka diperlukan pembelajaran matemetika yang menyenangkan. Hal ini
sejalan dengan sistem pembelajran emosional pada model Brain Based
Learning. Menurut Given (2007:80) dengan pembelajaran yang menyenangkan
akan membuat koneksi atau hubungan antara belahan otak kanan dan kiri menjadi
lebih cepat, sehingga lebih membuat siswa dapat dapat berfikir tentang pemecahan
masalah matematika.
II.2
Sistem Pembelajaran Sosial
Sistem pembelajaran sosial adalah
hasrat untuk menjadi bagian dari kelompok, untuk dihormati,dan untuk menikmati
perhatian dari orang lain. Jika sitem emosional bersifat pribadi, berpusat pada
diri dan internal, makka sistem sosial berfokus pada interaksi dengan orang
lain atau pengalaman interpersonal.
Kebutuhan sosial siswa
memaksa pendidik untuk mengelola sekolah menjadi komunitas pelajar, tempat guru
dan siswa bisa bekerja sama dalam tugas pengambilan keputusan dan pemecahan
masalah yang nyata. Didalam komunitas pelajar guru dan siswa saling berhubungan
sebagai keluarga dan siswa menerima penghaargaan dan perhatian untuk kelebihan
mereka. Dengan berfokus pada kelebihan siswa dalam konteks kelas memaksimalkan
perkembangan sosial melaluai kerja sama antar individu, perbedaan diantara siswa
justru menciptakan petualangan yang kreatif dalam pemecahan masalah.
Sehubungan hal
di atas, hubungan pembelajaran matematika dengan sistem pembelajaran sosial,
jika siswa mengikuti pembelajaran matematika dengan hasrat besar dan dipenuhi
dengan rasa keingintahuan, tetapi gagal dalam bersosialisasi dikelas maka
proses pembelajaran yang dilalui akan menjadi tugas-tugas sulit yang harus
dihindari. Karena pada dasarnya manusia memiliki kecendrungan untuk berkelompok
dan bekerjasama. Dengan bekerjasama siswa dapat menemukan beberapa alternatif
dugaan jawaban, dan mendiskusikan untuk menentukan jawaban yang benar. Untuk
itu dalam proses pembelajaran matematika siswa di kelompokan untuk
mendiskusikan konsep atau soal pemecahan matemaatika, sehingga atara siswa
dengan siswa, siswa dengan guru bisa saling berinteraksi bertukar pendapat
untuk mendiskusikan soal pemecahan matematik.
II.3 Sistem
Pembelajaran Kognitiif
Sistem
pembelajaran kognitif adalah sistem pemrosesan informasi pada otak. Sistem ini
menyerap input dari luar dan semua sistem yang lain, menginterpretsikan input
tersebut, serta memandu pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Karena
terkait langsung dengan pembelajaran akademis, sistem ini sangat diperhatikan
oleh pendidik.
Pembelajaran
matematika yang melibatkan pemecahan masalah adalah aktivitas yang paling baik
untuk perkembangan otak karena meningkatkan konektivitas antar neuron, jumlah
sel saraf, dan masa otak secara keseluruhan. Masalah-masalah yang akan di
pecahkan harus baru, menantang, tidak mengancam, dan merangsang emosi.
II.4 Sistem Pembelajaran Fisik
Sistem
pembelajaran fisik otak mengubah hasrat, visi, dan niat menjadi tindakan,
karena sistem operasi ini didorong untuk melakukan sesuatu. Riset (Given,
2007:251) menunjukkan bahwa tubuh memiliki pengruh sangat spesifik terhadap
mekanisme pikiran, karenanya dalam berbagai cara tubuh memiliki memiliki
pikirannya sendiri. Sistem pembelajaran fisik otakmelibatkan proses
interaksi dengan lingkungan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan
baru, atau mengungkapkan beragam emosi atau konsep.
Efektivitas belajar sangat
dipengaruhui oleh pembelajaran fisik, karena gerak badan dan rangsangan mental
adalah cara terbaik untuk menjaga agar otak selalu siap untuk belajar. Gerak
badan dan rangsangan mental menaikan kadar amino dan memperbaikai daya ingat
serta perhatian.
Hubungannya
dengan pembelajaran matematika, bahwa kosep matematika akan lebih bermakna jika
siswa berperan aktif dalam menemukan konsep tersebut. Konsep tersebut tidak
diberikan langsung oleh guru, melinkan melalui sejumlah rangkaian kegiatan yang
harus dilakukan oleh siswa. Hal ini
sejalan dengan sistem pembelajaran kognitif pada model Brain Based
Learning,misalnya untuk
menerangkan jarak yang melibatkan titik, garis dan bidang pada bangun ruang,
dalam pembelajaran siswa di bawa keluar kelas untuk membuat sketsa gambar benda
ruang di sekitar yang menujukan jarak titik, garis dan bidang pada bangun
ruang. Keterlibatan siswa secara aktif sejalan dengan sistem pembelajaran fisik
pada model Brain Based Learning.
II.5 Sistem
Pembelajaran Reflektif
Pemebelajaran reflektif merupakan
merupakan sistem yang memantau dan mengatur aktivitas semua sistem otak yang
lainnya. Pembelajaran reflektif berurusan dengan fungsi eksekutif otak dan
tubuh, seperti pemikiran tingkat tingggi dan pemecahan masalah. Sistem
pembelajaran reflektif menuntut siswa untuk memahami diri sendiri dan ini bia
dikembangakan melalui uji-coba dengan berbagai cara pembelajaran.
Setelah siswa
berperan aktif dalam menemukan konsep matematika, siswa juga perlu meninjau
kembali kesahihan konsep yang diperolehnya, kemampuan untuk menilai kembali dan
mencari solusi jika terdapat kesalahan. Selain itu juga dalam proses
pembelajaran matematika, perlu adanya introveksi selama proses pembelajaran
berlangsung. Artinya siswa bisa belajar untuk bertanya pada diri sendiri,
”Apakah aku belajar lebih baik dengan mendengarkan ketimbang membaca, atau
apakah Aku bisa memecahkan masalah matematika sesuai konsep, atau apakah Aku
belajar lebih baik ketika kerja kelompok ketimbang bekerja sendiran. Kemampuan
ini merupakan tugas dari pembelajaran reflektif pada model Brain Based
Learning, yaitu di setiap akhir pembelajaran guru memberikan soal evaluasi,
selain itu juga guru mengarahkan agar siswa berintroveksi apakah hasil tujuan
pembelajaran yang sudah ditargetkan sudah terpenuhi atau belum.
II.6 Teori Belajar yang Mendukung Model
Pembelajaran Brain Based Learning (BBL).
Teori atau
landasan filosofis yang mendukung model BBL, diantaranya yaitu
aliran psikologi tingkah laku (behaviorisme) dan pendekatan pembelajaran
matematika berdasarkan paham konstruktivisme.
1. Aliran Psikologi Tingkah Laku (Behaviorisme)
Tokoh-tokoh
aliran psikologi tingkah laku diantaranya adalah David Ausubel, Edward L.
Thorndike dan Jean Piaget. Teori Ausubel (Ruseffendi, 1988: 172) terkenal
dengan belajar bermakna dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai.
Teori Thorndike (Hudoyo, 1988: 12) diantaranya mengungkapkanthe law of
exercise (hukum latihan) yang dasarnya menunjukkan bahwa hubungan
stimulus dan respon akan semakin kuat manakala terus-menerus dilatih dan
diulang, sebaliknya hubungan stimulus respon akan semakin lemah manakala tidak
pernah diulang. Jadi semakin sering suatu pelajaran diulang, maka akan
semakin dikuasai pelajaran itu. Sedangkan teori Piaget (Ruseffendi, 1988: 132-133)
mengungkapkan:
1. Perkembangan
intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama.
2. Tahap-tahap
itu didefinisikan sebagai kluster dari operasi-operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokan, pembuatan
hipotesis, penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku
intelektual.
3. Gerak
melalui tahap-tahap itu dilengkakan oleh keseimbangan yang menguraikan
interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul.
2. Aliran
Konstruktivisme
Pendekatan
paham konstruktivisme mengungkapkan bahwa belajar matematika adalah proses
pemecahan masalah. Ruseffendi (1988: 241) menyatakan bahwa pemecahan masalah
itu lebih mengutamakan kepada proses daripada kepada hasilnya (output). Guru
bukan hanya sebagai pemberi jawaban akhir atas pertanyaan siswa, melainkan
mengarahkan mereka untuk membentuk (mengkonstruksi) pengetahuan matematika
sehingga diperoleh struktur matematika.




Komentar
Posting Komentar